Langsung ke konten utama

Asuhan Keperawatan Anak dengan Gangguan Perilaku ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)


Nur Laili Sadidah
STr. Keperawatan Lawang
sadidahnurlaili@gmail.com


Abstrak
Attention Deficit Hyperactivity Disorder merupakan suatu gangguan kejiwaan yang membuat seseorang melakukan sikap yang abnormal dibandingkan dengan anak pada umumnya. Penyakit ini akan berkembang terus menerus hingga anak tumbuh menjadi dewasa. Gangguan perilaku ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) merupakan gangguan neurobehavioral yang menyebabkan kurangnya kemampuan untuk memusatkan perhatian termasuk peningkatan distraktibilitas dan kesulitan untuk mempertahankan perhatian, kesulitan mempertahankan kontrol impuls, overaktifitas motorik dan kegelisahan motorik. Faktor- faktor yang dapat menyebabkan ADHD yakni faktor genetik, faktor lingkungan, dan factor neuroanatomi. Penyakit ADHD ini dapat ditanggulangi yakni dengan pengobatan intensif, komunikasi interpersonal,senam otak, hingga pengajaran edukasi yang menyenangkan. Para penyandang ADHD tidak sepantasnya untuk dijauhi karena anak tersebut memiliki hak untuk bergaul dengan orang lain walaupun di dalam dirinya terdapat suatu keterbatasan. Rasa nyaman yang dirasakan oleh para penyandang ADHD ini ialah suatu stimulasi yang dapat mempercepat proses penyembuhannya. Dorongan dan dukungan dari orang-orang terdekat inilah yang selalu dibutuhkan oleh para penyandang ADHD untuk dapat bangkit dari keterpurukan yang dialaminya.
Kata kunci : Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

Pendahuluan
Istilah ADHD mungkin masih tergolong istilah yang baru dan belum familiar di telinga masyarakat. Anak penyandang ADHD merupakan anak yang memiliki kelemahan fisik maupun mental yang berdampak pada sikap dalam menanggapi sesuatu di kehidupan sehari hari. Ganguan yang menyebabkan perbedaan antara penyandang ADHD dengan anak pada umumnya inilah yang membuat anak ADHD sering kali merasa dikucilkan oleh khalayak umum. Penyakit ini kerap kali muncul dengan ditandai sikap yang hiperaktif dan abnormal. Penyakit ini akan berkembang sampai kelak ia tumbuh dewasa ( Yonafianda & Syarif, 2015 : 182).
Penyakit kejiwaan sering kali muncul di permukaan. Hal ini menyebabkan seseorang merasa berbeda dengan anak pada biasanya. Perasaan inilah yang memunculkan kesenjangan di kehidupan sehari hari. Penyakit ADHD terus mengalami perkembangan untuk menemukan suatu penyebab dan cara penanggulangan yang terbaik. Di dunia kesehatan selalu diadakan penelitian –penelitian tentang ADHD oleh para ilmuwan guna membantu penyandang ADHD agar selalu mendapat penanganan yang tepat.
Definisi ADHD
Dewasa ini banyak ditemukan anak usia sekolah yang memiliki kelainan mental yang mengakibatkan keterbelakangan pada setiap kegiatan yang dilakukannya. Diana (2005:3) menyatakan bahwa gangguan perilaku ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) merupakan gangguan neurobehavioral yang menyebabkan kurangnya kemampuan untuk memusatkan perhatian termasuk peningkatan distraktibilitas dan kesulitan untuk mempertahankan perhatian, kesulitan mempertahankan kontrol impuls, overaktifitas motorik dan kegelisahan motorik. Hal ini disebabkan karena ada gangguan pada area korteks frontal yang merupakan area utama yang secara teori bertanggung jawab terhadap patofisiologi ADHD. Lobus frontal pada dasarnya memiliki tugas yakni sebagai pusat pengaturan tentang pemusatan perhatian, konsentrasi dan fokus. Pada penderita ADHD terjadi sistem  ”dis-inhibitor disorder” yakni mekanisme dari otak yang tidak berfungsi. Hasil dari sistem tersebut yaitu sikap anak yang temperamen yang berbeda dengan anak pada normalnya. Menurut Selekta (2013:20), 8-10% penderita ADHD yakni anak usia sekolah dan 40-50% yaitu usia remaja dan dewasa. Saat ADHD menetap hingga usia remaja atau dewasa, hal ini akan mengakibatkan terganggunya kehidupan social dan psikologisnya. Orang yang memiliki penyakit ini akan cenderung mengikuti hal hal buruk yang bersifat tak lazim contohnya yaitu terjebak narkotika, NAPZA, pergaulan bebas dan lain sebagainya.

Faktor dan Gejala ADHD
Gangguan ADHD pada usia sekolah dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Menurut Yanofiandi dan Syarif (2015 : 182) faktor faktor yang dapat menyebabkan ADHD yaitu faktor genetik, faktor lingkungan , dan faktor neuroanatomi. Faktor genetik yaitu faktor keturunan yang pada dasarnya tubuh si anak memiliki gen ADHD yang didapat dari silsilah keluarganya. Faktor lingkungan dapat mempengaruhi gangguan ADHD ini yakni sikap dan perilaku seseorang dapat berubah sesuai lingkungan sekitar yang mempengaruhinya. Faktor neuroanatomi yaitu faktor hubungan sensorik pada otak. Pada penderita ADHD ditemukan otak yang berukuran lebih kecil dibandingkan ukuran otak anak pada umumnya. Peran neurotransmitter dalam proses penyaluran impuls seperti norepineprin yang akan memperkuat rangsangan dan dopamine yang akan menurunkan rangsangan yang diterima. Menurut Pastura (2016 : 13) “perbedaan terbesar dari subjek kontrol yang  diamati yaitu pada volume lobus parietal kanan dan kiri. Daerah kortikal frontal kanan dan kiri serta lobus temporal kiri juga menunjukkan ketebalan dan volume kortikal yang lebih rendah ketika dibandingkan dengan anak pada normalnya”.
ADHD dapat diidentifikasi dengan beberapa gejala yang tampak dalam kesehariannya. Dondy (2016 : 3) menyatakan bahwa gejala ADHD dapat didiagnosis sebelum anak berumur 7 tahun dan biasanya akan muncul pada tahun ke 2 dan 3. Gejala yang ditemukan dapat dibedakan yaitu kurangnya perhatian,hiperaktif, dan impulsif. Menurut Stein (2008 : 8) tindakan yang muncul untuk penderita ADHD yaitu gelisah, kehilangan arah, tak mau bergaul, dan lebih suka menyendiri. Gejala ini sebaiknya dapat ditemukan secepat mungkin dan dapat dilakukan tindakan yang benar. Keluarga yang memiliki anak penderita ADHD harus selalu sabar dan ikhlas menjalaninya. Anak penderita ADHD dapat dilakukan terapi psikososial,pemberian pengertian dan nasehat bila melakukan kesalahan dan meminta konseling pada pihak yang mengerti kasus ADHD (Utami&Naviati, 2012:241). Sebagai tenaga medis, kegiatan yang dapat dilakukan untuk membantu penyembuhan pada penderita ADHD yakni dapat melakukan kegitan senam otak. Menurut harini (2010 : 11) senam otak dapat menyebabkan keseimbangan pada otak kanan dan kiri penderita ADHD, hal ini dapat mendorong aktivitas dan emosi si anak dapat terjaga kestabilannya dan semakin terkontrol. Penderita ADHD lebih dapat memusatkan perhatiannya karena hubungan antara otak dengan sistem saraf dapat berjalan lancar sehingga penyaluran informasi dapat berjalan lancar dan efektif.
Penanggulangan ADHD
Ironisnya keadaan ADHD ini membuat seseorang memandang dengan sebelah mata. Mereka menganggap bahwa penderita ADHD perlu untuk dijauhi dan dihindari keberadaannya. Padahal, penderita ADHD ini sedini mungkin harus dapat ditangani dengan baik, walaupun penderita tidak langsung diobati secara teratur , namun ADHD dapat diantisipasi dengan adanya pendekatan,perhatian, dan kasih sayang dari keluarga,sanak saudara, maupun orang lain disekitarnya (Lyon, J , 2001). Menurut Bella (2015: 5) untuk pelayanan sekolah anak ADHD dapat dilakukan bebrapa cara yaitu cara pendekatan, intervansi, dan pengajaran ulang. Cara pendekatan yaitu cara untuk membut hubungan interpersonal antar pembimbing dengan si anak. Hal ini adalah dasar untuk memulai kegiatan belajar mengajar yang dapat membuat rasa nyaman pada si anak. Cara intervansi yakni cara memusatkan perhatian si anak saat anak mulai merasa bosan dan tak lagi memusatkan perhatiannya pada bahan ajaran. Pembimbing dapat mendekati si anak dan memberikan sedikit obrolan yang membuat si anak kembali memusatkan perhatiannya pada bahan ajaran yang diajarkan. Cara yang terakhir yang pengajaran ulang yaitu teknik yang sudah umum digunakan di sekolah. Saat pembimbingan akan dimulai, pembimbing lebih baik mengulang bahan ajaran di pertemuan sebelumya. Hal ini bertujuan untuk merefresh ingatan si anak agar dapat lebih memahami bahan ajaran yang akan disampaikan. Menurut Gea (2016 : 6) pada perkembangan anak dibutuhkan stimulasi yang cukup untuk otak agar dapat berfungsi lebih baik. Stimulasi yang disertai aktivitas fisik dapat meningkatkan neurogenesis selsel di gyrus dentata hippocampus, serta meningkatkan kinerja hippocampus pada proses belajar. Dapat disimpulkan bahwa penderita ADHD tidak perlu dijauhi dan ditakuti. Si anak lebih membutuhkan perhatian lebih yang dapat meningkatkan rasa aman yang membuat penyemangat untuk menjalani hidup dengan baik layaknya anak normal pada umumnya.
Komunikasi dengan cara yang baik pada penderita ADHD sangatlah penting untuk dilakukan. Melalui komunikasi inilah yang bias membuat penderita menjadi lebih terbuka dan lebih merasa dihargai keberadaanya. Carolline (2014 : 11-12) menyatakan komunikasi interpersonal yang dapat dilakukan yaitu meliputi komunikasi verbal dan non verbal. Komunikasi verbal meliputi sebuah perhatian yang mencakup kata kata yang diutarakan kepada si anak contohnya yaitu nasehat,candaan,bercerita dan lain sebagainya. Komunikasi non verbal yaitu sebuah gerak tubuh yang dilakukan bersamaan dengan komunikasi verbal contohnya yaitu senyuman,gerak tangan saat menyentuh anak dan lain sebagainya. Menurut Nurhuda dan Sutarso (2016 : 3) komunikasi dengan penderita ADHD memiliki beberapa tahap yaitu tahap persiapan, tahap pengenalan, tahap kerja, dan tahap terminasi.. Komunikasi yang dilakukan memiliki beberapa pola yang efektif dan efisien contohnya nada suara terapis yakni memberikan suara yang halus dan lembut pada penderita ADHD tanpa memberikan suara yang keras, terapis berusaha yaitu memberikan terapi menggunakan alat medis untuk membantu penyembuhan.
Menurut Sulla (2017 : 134) bahwa penderita ADHD memiliki kesempatan yang sama untuk meraih kesuksesan. Perbedaannya penderita ADHD lebih membutuhkan sebuah pendekatan yang khusus untuk mengerti sebuah informasi yang disampaikan. Klingberg (2005: 183) menyatakan bahwa penggunaan metode WM pada penderita ADHD yakni dapat memberikan efek peningkatan penghambatan pada stimulasi otak. Semua pendekatan yang telah dilakukan akan memiliki dampak yang lebih kompleks jika terdapat pengakuan terhadap penderita ADHD ( Faraone dkk, 2003). Dapat disimpulkan bahwa penderita ADHD membutuhkan sesuatu pengakuan yang dapat memberikan kenyamanan sehingga dapat meningkatkan kepercayaan diri untuk melangkah maju kedepan layaknya orang pada umumnya. 
Kesimpulan
ADHD merupakan suatu kelemahan mental yang menyebabkan suatu abnormalitas pada sikap yang dilakukannya. Kelemahan tersebut terjadi karena beberapa faktor yakni faktor genetik, lingkungan, dan neuroanatomi. Penanggulangan untuk penyandang ADHD yaitu melakukan suatu pendekatan secara interpersonal hingga tercapai komunikasi yang menyebabkan penyandang ADHD merasakan kenyamanan sehingga keadaan ini dapat memepercepat proses penyembuhan. Penyandang ADHD tidak untuk dijauhi dan dikucilkan namun untuk dibina dan diberikan suatu edukasi guna menyetarakan hak setiap anak.


























Daftar Rujukan
Adler, L. A. (2008). Neurobiology, pharmacology, and emerging treatment. CNS spectrums, 13(S13), 4-4.
Caroline, S. (2014). Komunikasi Interpesonal Antara Terapis Dengan Anak Penyandang Adhd. Jurnal e-Komunikasi, 2(2).
Dondayuniermawati. 2016. Terapi psikososial anak dengan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD)
Faraone, S. V., Sergeant, J., Gillberg, C., & Biederman, J. (2003). The worldwide prevalence of ADHD: is it an American condition?. World psychiatry, 2(2), 104.
Gea, S.R (2016). Pengaruh Brain Gym (Senam Otak) Terhadap Memori Jangka Pendek Penyandang Tunagrahita Ringan di SDLB-C Dharma Asih Pontianak. ProNers, 3 (1)
Klingberg, T., Fernell, E., Olesen, P. J., Johnson, M., Gustafsson, P., Dahlström, K., ... & Westerberg, H. (2005). Computerized training of working memory in children with ADHD-a randomized, controlled trial. Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychiatry, 44(2), 177-186.
Kurniasari, B. 2015 . Layanan guru pada siswa Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) di kelas V SD Negeri 1 Sedayu Kecamatan Sedayu Kabupaten Bantul, (Daring), (journal.student.uny.ac.id/ojs/ojs/index.php/pgsd/article/download/483/449, diakses tanggal 17 September 2018)
Lyon, J. (2001). Understanding Attention Deficit/Hyperactivity Disorder. Practical Pre-School, 2001(29), 7-8
Nurhuda, M., & Sutarso, J. (2016). Komunikasi Interpersonal Antara Terapis Dengan Anak Penyandang Adhd (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)(Studi Deskriptif Kualitatif Pola Komunikasi Interpersonal (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta).
Pastura, G. Brain morphometry in ADHD. Puericultura e Pediatria, 1(1).
Puspitaningsih, D. (2015). Pengaruh senam otak terhadap perubahan perilaku anak Attention Defficit And Hyperactivity (ADHD) penelitian quasy-experimental di sekolah anak bermasalah (SAB) Harapan Aiyiyah Mojokerto. Hospital Majapahit, 2 (1).
Selekta, M. C. (2013). Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) Pada Anak Usia 2 Tahun. Jurnal Medula, 1(03), 19-25.
Stein, M. A. (2008). Treating adult ADHD with stimulants. CNS spectrums, 13(S13), 8-11.
Sulla, E. 2017. Examining Intra-Personal and External Support Factors Supporting Academic Success in Post Secondary Students with ADHD
Yanofiandi, Y., & Syarif, I. (2015). PERUBAHAN NEUROANATOMI SEBAGAI PENYEBAB ADHD. Majalah Kedokteran Andalas, 33(2).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

INDONESIA TAK LAGI BERBAHASA

NAMA : NUR LAILI SADIDAH S.Tr KEPERAWATAN LAWANG Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan Bangsa Indonesia yang mana salah satu fungsinya yakni sebagai alat pemersatu bangsa Indonesia. Dahulu Bahasa Indonesia memiliki kedudukan yang tinggi hingga pembentukannya membutuhkan perjuangan yang keras dan dengan waktu yang lama. Namun di era millennial ini, banyak generasi muda yang tak lagi memiliki rasa cinta dan rasa memiliki terhadap Bahasa Indonesia. Hingga saat ini Indonesia sedang mengalami goncangan besar karena Indonesia tak lagi menghadapi negara asing namun generasi mudalah yang menjadi pengancam bagi keutuhan Bangsa Indonesia. Seperti yang pernah dikatakan Ir. Soekarno yakni “ perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, tetapi perjuangan kalian lebih berat karena melawan saudara sendiri”. Ironisnya, pemuda saat ini lebih bangga menggunakan bahasa asing yang sering kali disebut dengan bahasa gaul daripada menggunakan Bahasa Indonesia. Entah bagaimana jalan pikiran pa...

Kiat Sukses Artikel Bebas Plagiasi

Nur Laili Sadidah STr. Keperawatan Lawang sadidahnurlaili@gmail.com Di era millennial ini banyak ditemukan berbagai teknologi hasil dari perkembangan IPTEK yang dapat memudahkan segala aktivitas yang dilakukan oleh manusia. Seiring dengan berjalannya kemajuan teknologi, internet juga ikut andil dalam menempuh perkembangan yang pesat. Di dunia informasi banyak terdapat pelanggaran pelanggaran yang mengakibatkan banyak kerugian dari semua pihak. Salah satu pelanggaran yang banyak ditemukan di dunia pendidikan yakni plagiarisme. Menurut Widyartono (2015 : 6) Plagiarisme merupakan suatu tindakan pengambilan sebagian atau seluruhnya karya atau ide dari orang lain untuk dijadikan sebuah karya yang seolah olah karya tersebut adalah miliki sendiri. Dengan kata lain plagiarisme adalah suatu bentuk pencurian ide yang dilakukan para akademisi untuk membuat suatu karya yang baru. Faktor terjadinya plagiasi di kalangan para akademisi yaitu sanksi yang diberikan pada plagiator relatif kecil (U...